AHLAN WASAHLAN BIHUDLURIKUM-SELAMAT DATANG DI WEBSITE MI MURNI SUNAN DRAJAT LAMONGAN | MI MURNI SUNAN DRAJAT LAMONGAN UNGGUL DALAM PRESTASI, BERPIJAK PADA IMAN DAN TAQWA | KELUARGA BESAR MI MURNI SUNAN DRAJAT MENGUCAPKAN SELAMAT TAHUN BARU HIJRIYAH 1439 H. SEMOGA ALLAH MEMBERIKAN KESUKSESAN PADA KITA SEMUA | Hadits hari ini: خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur`an dan mengajarkannya.” | اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِه “Bacalah oleh kalian Al-Qur`an. Karena ia (Al-Qur`an) akan datang pada Hari Kiamat kelak sebagai pemberi syafa’at bagi orang-orang yang rajin membacanya.” [HR. Muslim 804] .

Saturday, June 17, 2017

Prestasi MI Murni Sunan Drajat Lamongan Tahun Pelajaran 2016/2017



Prestasi diraih tidak dalam hitungan hari dan tentu bukan suatu kebetulan tetapi ada upaya yang terencana dan kedisiplinan mengatur waktu. Dibutuhkan kerja keras, juga latihan berkali-kali, serta do’a yang tak henti. Tidak putus asa, itu syarat utamanya.

Thursday, June 15, 2017

Maraknya Umroh, MI Murni Ajarkan Manasik Haji Buat Siswanya


LAMONGAN – Sebanyak  159  siswa MI Murni Sunan Drajat Lamongan mengikuti pratik manasik haji di halaman madrasah, kemarin yang dilengkapi dengan miniatur Ka’bah, dan diikuti oleh ratusan siswa-siswinya. Siswa dibimbing Guru mengikuti praktik  secara tertib untuk melaksanakan tahapan-tahapan ibadah haji baik thowaf, wukuf, membalang jumroh,sai maupun doa dan hafalan haji lainnya.



Salah seorang mapel Fiqih Ustadzah Jazilatur Rahmah, S.PdI  yang mendampingi disela-sela kegiatan mengatakan, ujian praktik manasik haji itu merupakan salah satu agenda kegiatan kurikum yang rutin dilaksanakan tiap tahun oleh siswa/i kelas V pada tahun ajaran 2016/2017. Pratik manasik haji bertujuan selain menjadi salah satu penilaian dalam pembelajaran, praktik manasik haji juga dimaksudkan agar setelah siswa lulus dari Madrasah minimal siswa mengetahui gambaran seperti apa kegiatan pelaksanaan haji yang menjadi rukun Islam ke lima. “Karena setiap muslim pasti bercita-cita ingin melaksanakan rukun Islam ke lima, sehingga siswa memiliki gambaran tentang proses-proses dasar ibadah haji,” jelasnya.
Adapun kreteria penilain antara lain, cara mengambil miqot, ketepatan melaksanaan sai, tawaf dan kekompakan kelompok dalam melafazkan zikir dan doa. “Dari ujian-ujian praktik tersebut, para siswa diharapkan bisa lulus dengan nilai terbaik tentunya diikuti dengan ahlak siswa ketika berada di luar madrasah,” harapnya.(Zaen).




Dapatkan Segera Majalah Pertama di MI Murni


MAJALAH MUNAJAT ( Perdana )
MI MURNI SUNAN DRAJAT LAMONGAN


Penasaran dengan isinya, Silahkan dapatkan dengan harga yang terjangkau di :


Wednesday, June 14, 2017

MI Murni Safari Religi Ramadhan




MI Murni melakukan safari religi ramadhan ke para makam auliya' yang di Kab. Lamongan (13/06/17). Kegiatan safari religi tersebut merupakan salah satu kegiatan dari proker keagamaan dari panitia ramadhan yang dilaksanakan secara rutin setiap 1 tahun sekali. Kegiatan ini diikuti oleh siswa MI Murni Sunan Drajat Lamongan sejumlah 323 siswa,  yang terdiri dari kelas 3 dan 4.
Kegiatan yang berwarna siraman rohani ini memiliki tujuan untuk mempererat tali persaudaraan serta kekeluargaan, dan juga dengan harapan mendapat safaat dari wali-wali Allah SWT. Dan juga memperkenalkan situs-situs sejarah islam yang ada di Kab. Lamongan khususnya. Selain itu juga menjelaskan tentang perjuangan-perjuangan Mbah Lamong dan Mbah Sabilan tentang perjuangan beliau membawa keimanan di Lamongan.

Sejarah Mbah Lamong


Pada zaman Raja Majapahit Raden Wijaya, Lamongan sudah menjadi daerah strategis. Dalam naskah riwayat hari jadi Lamongan, dijelaskan bahwa sudah terdapat jalan purbakala yang menghubungkan pusat kerajaan di Trowulan dengan Kambang Putih (pelabuhan Tuban) yang berada di pesisir utara. Diduga jalan purbakala tersebut mulai dari Desa Pamotan yang berada di selatan, Garung, Kadungwangi, Sumbersari, Pasarlegi, Ngimbang, Bluluk, Modo, Dradah terus ke utara hingga Gunung Pegat dan berakhir di utara tepatnya di Desa Pucakwangi di Babat. Pada zamannya, jalan purbakala ini ramai dilalui para saudagar, punggawa praja, prajurit hingga rakyat jelata.
Kondisi ini berpengaruh terhadap majunya perkembangan masyarakat di wilayah Lamongan bagian barat ketimbang warga yang hidup di Lamongan bagian timur. Kehidupan teratur masyarakat ini dapat dibuktikan dengan ditemukan banyaknya batu prasasti dan petilasan kuno di sepanjang jalan purbakala ini. Terbentuknya Lamongan sebagai kabupaten tidak lepas dari santri kesayangan Sunan Giri II bernama Hadi, pemuda asal Desa Cancing, Ngimbang, Lamongan. Karena kecakapan ilmu agama yang dimiliki, Hadi ini lantas dipercaya untuk menyebarkan ajaran Islam ke barat Kasunanan Giri.

Berbeda dengan delapan wali lainnya, Sunan Giri dan Kasunanan Giri memiliki sistem monarki, sehingga putra dan keturunan Giri bisa menggunakan gelar Sunan Giri. Dengan perbekalan, pengawalan dan seorang pembantu, Hadi berangkat melaksanakan perintah Sunan Dalem menyebarkan ajaran Islam di wilayah Lamongan. Rombongan penyebar agama Islam ini berangkat menyusuri Kali Lamong dengan naik perahu.
Perahu yang dinaiki Hadi akhirnya membawanya di sebuah tempat bernama Dukuh Srampoh, Pamotan, sebuah tempat yang berlokasi tidak jauh dari jalan purbakala Majapahit. Rombongan syiar Islam ini lantas melanjutkan perjalanan darat hingga sampai di Puncakwangi, yang sekarang masuk dalam desa di wilayah Babat. Karena lokasi tersebut dianggap sesuai dengan pesan Sunan Giri, akhirnya Hadi mengabarkan bahwa dirinya sudah berada di tempat 'kali gunting' atau kali yang bercabang dua. Bertemunya hulu sungai-sungai kecil dari Desa Bluluk dan Modo yang mengalir ke hilir kali besar yang sekarang bernama Bengawan Solo. Kedatangan Islam di daerah ini diterima cukup baik oleh masyarakat. Perkampungan Islam yang dibangun Hadi lambat laun berkembang cukup pesat. Namun di kemudian hari baru diketahui bahwa lokasi ini bukannya tempat dakwah yang dimaksud Sunan Giri II. Seiring berkembangnya waktu, perjalanan syiar Islam Hadi berlanjut hingga Sunan Giri III. Karena keberhasilan sebelumnya dalam berdakwah, Hadi mendapat pangkat Rangga yang berarti pejabat.
Keberhasilan dan cara dakwah Rangga Hadi dalam menyebarkan ajaran Islam di wilayah Lamongan, membuatnya dicintai masyarakat. Kemudian warga menyematkan julukan Mbah Lamong lantaran sifat mengasuh dan melayani masyarakat yang benar-benar membekas. Dalam perkembangannya, wilayah Lamongan menjadi incaran penjajah Portugis yang ingin menguasai pantai utara dan menjajah pulau Jawa. Kemudian Sunan Giri memandang wilayah Lamongan sebagai lokasi strategis namun rawan karena dilalui oleh Bengawan Solo yang mampu dilayari kapal pedagang maupun kapal perang penjajah.
Dengan pertimbangan matang, akhirnya Sunan Giri IV (Sunan Prapen) mengumumkan wilayah kerangga Lamongan ditingkatkan menjadi kadipaten pada tanggal 26 Mei 1569, Rangga Hadi lantas diwisuda menjadi adipati Lamongan pertama yang diberi gelar Tumenggung Surajaya. Rangga Hadi sendiri wafat tahun 1607. Pusara Rangga Hadi berada di sebelah utara Musala Mbah Lamong yang berada di tengah permukiman penduduk. Terdapat jalan penghubung antara musala dengan makam Rangga Hadi yang berada di bangunan terkunci. Sementara itu di kompleks luarnya juga terdapat sejumlah makam tanpa tulisan di nisan.
Lokasi musala berada di pojok persimpangan antara Gang Kali Lamong dan Gang Kali Wungu, Kelurahan Tumenggungan, Kecamatan Lamongan, Lamongan, Jawa Timur. Menurut penuturan salah satu warga sekitar, Kayah, makam Mbah Lamong hanya akan dibuka di waktu-waktu tertentu, termasuk saat hari jadi Kota Lamongan yang tanggal penetapannya mengacu pada wisuda Rangga Hadi. "Memang kalau ramai-ramai ya saat hari ulang tahun Lamongan, Bupati sama pejabat-pejabat suka ke sini," terangnya saat berbincang dengan merdeka.com baru-baru ini. Hal ini juga dibenarkan oleh Chambali, perangkat desa Kelurahan Tumenggungan yang ditemui merdeka.com terpisah. Menurutnya selain di hari ulang tahun Lamongan, makam Mbah Lamong juga akan dibuka saat malam Jumat.
"Biasanya Mbah Mirsad (juru kunci) ikut membantu peziarah mengantarkan doa untuk Mbah Lamong," terang Chambali saat ditemui di kantor kelurahan. Makam Mbah Lamong ini memang masuk dalam situs sejarah yang dirawat oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Lamongan. Perawatan dilakukan secara berkala dari tahun ke tahun. "Salah satu (situs yang dirawat) makam Tumenggung Surajaya, bupati Lamongan pertama. Dia disebut Mbah Lamong. Ini di zaman Sunan Giri, santrinya. Dia dari daerah Ngimbang, nyantri di Gresik. Setelah lulus dia menyebarkan ajaran Islam di barat, Lamongan," terang Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Lamongan Rudi Gumilar. [hhw]








Wednesday, June 7, 2017

Siswa MI Murni Baksos ke Panti Asuhan Chodijah

Siswa MI Murni Sunan Drajat Lamongan mendatangi Panti Asuhan Chodijah Lamongan, Rabu (7/6) sore usai mengikuti rangkaian materi pondok ramadhan. Kedatangan para siswa ini sendiri tak lain untuk menyalurkan bantuan yang mereka kumpulkan setiap hari ketika sekolah dan secara sukarela bagi semua siswa/i MI Murni, dikumpulkan jadi satu dan dikelolah oleh lembaga untuk berbagai macam kebutuhan sosial, termasuk menjenguk siswa/i dan ustad/ustdzah yang sakit, beasiswa bagi siswa miskin dan yang kita lakukan hari ini adalah untuk panti asuhan khususnya di Lamongan.
Kegiatan sosial yang dilakukan oleh perwakilan siswa/i sudah menjadi kegiatan rutin setiap akhir tahun ajaran baru. Dimana infaq siswa dianggarkan untuk menyumbangkan apa saja bagi anak-anak yatim piatu yang ada dipanti asuhan. Ini sudah agenda rutin kita setiap tahun memberikan bantuan kepada penghuni panti dan bantuan tersebut berupa apa saja yang dianggap bermanfaat buat anak-anak tersebut. Untuk tahun ini kami mencoba memberikan bantuan berupa perlengkapan sekolah seperti tas, buku dll. Karena ini momentnya tahun ajaran baru dan bulan ramadhan, kami juga menambahkan berupa uang tunai untuk keperluan mereka dibulan ramadhan.
Pemberian bantuan ini sendiri menurut Wakil Kepala Bidang Sarpras dan Humas (ust. Zainal Arifin, S.Pd)  bertujuan untuk mengajarkan kepada siswa agar ringan tangan dalam membantu sesama. Karena menurutnya, banyak anak-anak MI Murni dari kalangan keluarga mampu dalam hal ekonomi maka kita terketuk hatinya untuk menyalurkan di Kota Lamongan sendiri, karena setiap harta orang kaya itu dititipkan sebagian harta orang-orang miskin.Terutama ditahun ini yang memerlukan uluran tangan seperti penghuni di Panti Asuhan Chodijah tersebut, ditahun kemarin kita memberikannya di panti asuhan wachid hasyim dan Muawanah. “Kami berharap bantuan ini bisa sedikit meringankan dan mengurangi beban para penghuni panti,” katanya.
Penyerahan bantuan ini sendiri dihadiri oleh Pimpinan Madrasah MI Murni dan Pengurus Panti Asuhan Chodijah. Namun diserahkan oleh siswa/i MI Murni sediri selaku perwakilan semua siswa/i di madrasah. (Red. Zen)






Praktik Memandikan Jenazah MI Murni Sunan Drajat Lamongan


Ratusan siswa Kelas 5 MI Murni Sunan Drajat Lamongan, melakukan praktik memandikan, mengkafani, dan mensholati jenazah, yang dilaksanakan di dalam mushollah dan di halaman madrasah. Tak hanya melakukan praktik itu saja, ternyata mereka pun praktik berwudhu. Mengapa harus wudhu dan merawat jenazah dianggap penting oleh ustad/ustadzah penting buat bekal anak-anak, karena aktivitas tersebut sangatlah penting  aplikasinya di masyarakat dan wudhu juga berpengaruh kepada sah dan tidaknya sholat mereka.
Semua siswa pun tampak begitu antusias dan seluruhnya memahaminya dengan baik. Kata Wakil Kepala Madrasah Bidang Kesiswaan (Ust. Abdul Kadir, S.Pd) saat praktik  memandikan, menkafani, dan mensholati Jenazah tersebut merupakan praktik bidang studi fikih yang hukumnya fardlu kifayah. Karena pada dasarnya, seluruh umat Islam wajib memahi, mengetahui, dan melaksanakannya tentang tata cara mengurus jenazah.
"Karena kematian manusia pasti akan selalu ada setiap waktu dan Allah SWT tidak memberitahu sebelumnya, kapan dan dimana manusia akan diambil nyawanya. Dengan begitu, mulai dari usia dini, manusia harus diperkenalkan belajar memandikan, menkafani, dan mensholati jenazah, supaya saat nanti hidup di masyarakat, sudah mampu mengurus jenazah, minimal sampai mensholatinya.
Pihak lembaga pun berharap, seluruh siswa MI Murni Sunan Drajat Lamongan, setelah berada di tengah-tengah masyarakat kelak, selain mampu melaksanakan ibadah fardhu, juga mampu mengurus jenazah dan juga mampu menjadi imamnya ketika kelak mereka dewasa.Amiiin (Red. Zen).





Peta MI

Kegiatan Karakterku